5 Fakta Clickbait, Nomer 4 Wow Banget!

Clickbait Wocomedia

Source : Pexels.com/KaboomPics

Oleh : Putri Aisyiyah R.D (Dosen Ilmu Komunikasi Unesa)

            Apa yang ada dalam benak anda ketika membaca judul tulisan ini? Apakah judul tersebut membangkitkan rasa penasaran? Ingin tahu lebih lanjut? Adakah keinginan untuk mencari tahu lebih jauh dan melanjutkan membaca hingga titik ini.

Sebagian dari anda mungkin berhenti pada judul, mengernyitkan dahi, dan jika tidak tahu sama sekali tentang “clickbait” maka bisa jadi anda akan melewatkan kolom ini dan menuju halaman lain, atau bisa jadi anda ingin membaca tapi nanti setelah artikel-artikel lain yang lebih menarik perhatian.

Lain cerita, bila anda pernah mendengar tentang clickbait. Tak peduli seberapa pengetahuan anda tentang kata ini, apakah sudah banyak atau hanya pernah mendengarnya sekali saja entah dimana. Pada orang yang sudah punya latar informasi sebelumnya, mereka cenderung lebih penasaran isi artikel ini. Apa ya kira-kira? Samakah dengan informasi yang kumiliki? Adakah hal baru yang belum kuketahui?

Rasa penasaran untuk melengkapi puzzle informasi inilah yang disebut dengan curiosity gap atau kesenjangan (yang menimbulkan) rasa penasaran. Kesenjangan antara apa ayang sudah diketahui dan apa yang belum. Gap penasaran inilah yang menjadi alasan utama mengapa seseorang terkena jebakan clickbait.

Clickbait atau umpan klik adalah seluruh konten internet yang dibuat untuk satu tujuan: mendapatkan klik. Konten tersebut dibuat seatraktif mungkin, memainkan rasa penasaran sedemikian rupa sehingga khalayak tanpa melalui proses pikir panjang akan meng-klik laman yang dimaksud oleh pembuat konten.

Kerap kita menemukan judul seperti: “Begini wajah asli Krisdayanti tanpa make up, mirip siapa hayo?” atau kadang, “7 fakta tentang payudara, nomer lima anda tidak akan pernah menyangka”. Dua tersebut adalah judul-judul yang memang menjadi umpan klik. Pembaca tahu Krisdayanti selalu tampil full make up di hadapan publik dan depan kamera, pembaca juga tahu betapa cantiknya pelantun hits “Menghitung Hari”. Yang tidak diketahui pembaca adalah bagaimana seorang KD ketika dia tidak mengenakan make up, apakah masih secantik di layar kaca atau biasa saja seperti perempuan kebanyakan. Inilah yang kemudian menuntun seseorang untuk meng-klik berita tersebut.

Sama dengan judul kedua, setiap perempuan pasti memiliki pengetahuan tentang payudara mereka, namun ketika membaca judul ada keinginan untuk melakukan konfirmasi apakah pengetahuan mereka sama dengan yang ada dalam artikel, atau pembaca dibuat penasaran dengan fakta apa lagi sih yang mau dituliskan dan tidak disangka-sangka itu.

Ketika kita telah meng-klik dan menuju isi berita secara keseluruhan, apakah rasa penasaran akan terpuaskan? Tunggu dulu! Tidak semudah itu.  Sering setiap fakta dibuat menjadi halaman terpisah, sehingga kita harus melakukan klik dan klik lagi sebelum sampai pada sesuatu yang dijanjikan sebagai kejutan pada judul. Ketika sampai pada nomer yang dimaksud, batin menjerit “udah cuma gini aja? Mananya yang mengejutkan.” Atau “yaelah, ini sih KD masih pakai make up tapi natural”. Jarang pembaca mendapatkan kepuasan meski telah membaca hingga akhir sebuah tulisan. Justru yang hadir adalah penyesalan karena kuota internet terbuang sia-sia. Sementara, pembuat konten bersorak karena berhasil mendapatkan klik, buah dari curious gap netizen.

Cara lain yang biasanya digunakan untuk memancing klik adalah memasang gambar-gambar aneh (sadis, mengenaskan, atau porno) yang kadang tidak relevan dengan tulisan. Contohnya adalah gambar orang-orang tergeletak di jalanan, lantas dikaitkan dengan ngerinya dampak virus Corona China. Padahal, itu adalah aksi teatrikal di sebuah kota di Jerman beberapa tahun silam.

Pembuat konten memang mengejar klik, seperti industri televisi yang mendewakan rating acara. Semakin tinggi rating, artinya semakin banyak yang menonton. Jika penonton banyak,maka pengiklan pun berdatangan. Demikianlah logika pasar penyiaran kita.

Pasar di era digital pun punya logika yang  sama. Mereka menggunakan click-through rates (CTR) untuk melihat seberapa konten diminati oleh netizen. Semakin banyak angka klik, semakin mengundang pemasang iklan. Uang pun akan berdatangan. Lagi-lagi, netizen hanya sebagai obyek yang dipermainkan rasa penasarannya, tapi tak mendapatkan keuntungan apa-apa kecuali informasi sampah. Kuota dan waktu pun terbuang sia-sia.

Artikel pernah diterbitkan di kolom "Literasi Media" Majalah Walida

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.