( Fake News ) Seolah-Olah Berita, Padahal …

Fake News

Ilustrasi : Pexels.com/kaboompics

Oleh : Putri Aisyiyah R.D., M. Med. Kom (Dosen Ilmu Komunikasi UNESA)

“Jangan percaya, itu fake news!”

“fake news, itu apa?”

“hoax. Berita bohong”

            Banyak orang menyamakan fake news dengan hoax, seperti ilustrasi percakapan di atas. Namun kedua kata tersebut sebenarnya berbeda. Bahkan, dalam perjalanannya fake news menyimpan bahaya laten yang mampu membinasakan jurnalisme satu masa nanti, bahkan mungkin tak lama lagi.

Istilah “Fake” saat ini sedang naik daun, terutama di kelompok milenial. Beberapa yang kerap digunakan adalah fake smile untuk mengatakan senyum palsu, fake friend untuk menyebut seseorang yang berpura-pura menjadi teman, dan tentu saja “fake news”.

Fake bahasa pergaulan yang artinya kurang lebih adalah tiruan, tidak asli, menyerupai atau seolah-olah. Maka, segala kata yang diimbuhi fake memiliki arti yang bertentangan dengan kata yang mengikuti (dalam bahasa Indonesia dikenal dengan majas oksimoron).

Begitu juga fake news atau berita palsu, yang memiliki arti kurang lebih tulisan yang menyerupai berita, dan ternyata bukan. Mengapa disebut “news”? karena sebagai sebuah tulisan, ia memenuhi unsur berita yaitu adanya 5w1h (what, who, when, where, why, dan how). Format penulisan pun mengikuti format berita, dan dimuat pada laman atau portal berita, bisa jadi portal berita sesungguhnya atau abal-abal (fake media).

Sementara itu, istilah “fake” atau “seolah-olah” merujuk pada proses yang terjadi di belakang sebuah tulisan. Berita, sebagai sebuah produk jurnalistik mensyaratkan proses panjang dalam pembuatannya. Mulai dari jurnalis  yang bertugas mengumpulkan data-data, verifikasi dan menuliskannya. Lantas, tulisan tersebut masuk pada meja redaksi untuk cek dan ricek, juga proses editing. Setelah berita dinyatakan layak, baru dipublikasikan kepada masyarakat. Karena melibatkan banyak orang, maka ada tanggung jawab bersama dalam isi pemberitaan.

Fake news tidak melalui seluruh proses tersebut. Berita hanya dibuat ala kadarnya, bahkan kadang hanya duplikasi dan comot artikel sana-sini, dan kemudian ditulis dengan format berita. Penyebarannya rata-rata menggunakan media online, karena media inilah yang paling murah dibandingkan dengan media cetak apalagi penyiaran.

Para pembuat fake news dengan sengaja mengelabui pembaca bahwa yang ia sajikan adalah sebuah berita dan untuk itu layak dipercaya. Mereka tidak ingin melalui prosedur pembuatan berita yang rumit, berliku dan tentunya berbiaya mahal. Seseorang bisa membuat lebih dari dua puluh tulisan dalam satu hari. Ia bisa menulis, mengedit, dan menyebarkannya melalui website, media sosial, atau platform lain, dan semuanya dilakukan cukup seorang diri. Produk mereka inilah yang disebut dengan berita palsu.

Praktik membuat berita (palsu) dalam jumlah besar dan standar rendah disebut juga dengan fabrikasi berita.  Tujuan mereka beragam, tapi sebagian besar untuk menangguk untung dari click para pengunjung laman mereka.

Sebagai tambahan referensi, beberapa literatur membedakan fake news dan hoax, seperti Axel Gelfert dalam publikasi jurnalnya “Fake News: A Definiton”  ataupun dalam buku “Journalism, Fake News, and Disinformation” yang diterbitkan oleh UNESCO tahun 2018 sebagai rangkaian seri modul pelatihan jurnalis. Pendapat lain menyamakan fake news dengan ragam penyalahgunaan informasi lain yaitu hoax atau disinformasi. Ada pada kelompok kedua ini yaitu Posetti & Matthew yang menulis “A Short Guide to the History of Fake News and Definition” sebagai modul pelatihan jurnalis untuk organisasi International Center for Journalists (IJFC).   

Saya pribadi condong pada pendapat pertama. Fake news bicara tentang pembohongan publik tentang proses di belakang sebuah tulisan, sementara hoax merujuk pada muatan informasi yang memang menyesatkan (bohong). Akan tetapi, keduanya memiliki kesamaan dalam hal kesengajaan, yaitu sama-sama sebuah tindakan yang disadari, terstrukstur dalam hal produksi dan penyebaran kepada masyarakat.   

Hoax terjadi ketika ada orang sengaja menulis ada pembunuhan untuk menyulut emosi pembaca padahal tidak ada pembunuhan yang terjadi. Sementara, fake news terjadi ketika si A mengatakan ada pembunuhan, diaminkan oleh si B, kemudian seseorang menuliskan statemen si A dan B, menyimpulkan bahwa benar telah terjadi pembunuhan, dan menuliskannya menjadi berita tanpa pernah mencari tahu di lapangan benarkah telah terjadi pembunuhan.

Keduanya tentu membahayakan karena menyesatkan pembaca. Fake News lebih berbahaya lagi karena ia dibuat mirip dengan berita, sehingga pembaca yang tidak kritis akan menelan mentah-mentah sebagai sebuah fakta.

Celakanya, kini di era percepatan informasi media massa pun dituntut untuk lebih dan lebih cepat lagi dalam menyajikan berita. Banyak media pun kemudian lalai dan sengaja meninggalkan prosedur rumit berita dan terjebak pada praktik fabrikasi. Alih-alih memproduksi berita, mereka hanya memproduksi tulisan yang seolah-olah berita. Yang penting bagi mereka cepat dan massif. Apa yang terjadi ketika masyarakat banyak terpapar fake news? Ya tentu saja lambat laun kepercayaan terhadap media massa akan luntur. Jurnalisme hanya menjadi kata-kata indah yang digaungkan di bangku kuliah dan buku teori semata. Dalam kondisi demikian, mudah sekali untuk menjadikan kekacauan di masyarakat, karena mereka tidak tahu lagi kepada siapa bertanya tentang kebenaran fakta-fakta.

Artikel pernah diterbitkan di kolom "Literasi Media" Majalah Walida

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.