WASPADA HOAX

Hoax

Ilustrasi : Pixabay.com/brunamereu

“Hati-hati saat ini sedang marak penculikan anak untuk diambil ginjalnya. Minggu lalu di Depok ada seorang anak yang diculik selama 3 hari, setelah itu si anak dikembalikan ke sekolah dalam keadaan sakit. Setelah diperiksa oleh dokter sekolah ternyata ada bekas jahitan dan ginjalnya tinggal satu. Mohon sebarluaskan agar para orang tua waspada. (Info dari Humas Polri)”

Bu Sari menerima pesan tersebut dari salah satu grup whatsapp. Sebagai orang tua yang memiliki anak usia SD hatinya miris membayangkan betapa keji peristiwa tersebut. Masih belum reda rasa cemas, tanpa pikir panjang ia segera membagikan informasi yang baru ia terima ke grup keluarga, grup pengajian, dan grup wali murid sekolah anaknya.

Pernahkah anda mengalami hal yang sama dengan ilustrasi di atas, menerima sebuah berita “menarik” dan menggoda jemari anda untuk menekan tombol salin dan sebar?

Pernahkah anda menerima berita tentang meninggalnya Habibie? peringatan gempa dan tsunami? munculnya narkoba jenis baru yang bisa mempengaruhi pemakainya via ponsel? Atau adanya lintah dalam kangkung yang bisa berkembang biak dalam perut pemakannya walaupun telah dimasak?

Beragam berita tersebut belakangan diketahui hanyalah isapan jempol semata, tidak bisa dipertanggungjawabkan dan menyesatkan. Kalau bahasa yang digunakan oleh anak muda sekarang, berita hoax!

Iya, “hoax”, sebuah kata serapan yang disamakan dengan “bohong”, kalau kita tengok di Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti sesuatu yang mengandung tipu muslihat.

Tidak banyak referensi yang menjelaskan asal mula kata “hoax” kecuali sekelumit cerita bahwa hoax berasal dari kata “hocus”, mantra penyihir di era 1600-an yang berarti “untuk menipu/mengelabui” biasanya digunakan ketika penyihir mengayunkan tongkat sihirnya dan mengubah sebuah benda.

Bisa saja asal usul tersebut benar adanya, atau justru cerita tentang hoax ini juga merupakan satu diantara ribuan hoax yang tersebar di internet.

Nah, pertanyaannya “kenapa orang mudah sekali menyebarkan hoax?” , pada era digital seperti ini, informasi menjadi komoditas bernilai. Mereka yang memiliki informasi akan dianggap sebagai seseorang yang memiliki nilai lebih, maka secara psikologis akan mempengaruhi kita untuk berlomba menjadi yang tercepat dalam menyampaikan berita, dan seringkali kita lupa untuk melakukan verifikasi apakah berita tersebut benar adanya. Fitur smart phone juga memfasilitasi hal tersebut, banyak sekali fasilitas rekayasa konten, kemudahan dalam melakukan salin  temple informasi/link/teks, juga kapasitas maksimal karakter yang demikian besar.

Sebagian besar hoax sengaja diciptakan untuk menyebar ketakutan, kecemasan, kebencian, dan emosi-emosi negatif lainnya. Hoax yang tersebar dari satu grup media sosial ke grup lainnya akan menambah jumlah kemarahan, kebencian, dan ketakutan. Dan yang paling membahayakan dari hoax adalah bila mengandung fitnah pada seseorang atau kelompok tertentu. Bukankah sebuah kebohongan bila disebarkan secara terus menerus dan banyak yang mengatakan maka akan menjadi kebenaran?

Bahaya hoax juga mendapat atensi khusus dari pemerintah, mereka bahkan merevisi Undang-undang Informasi & Transaksi Elektroniki (UU ITE) dan memasukkan berita bohong serta ujaran kebencian (hate speech) dalam pasal tambahan 45A ayat (1) dan ayat (2). Revisi yang disahkan pada 18 November 2016 lalu menyatakan bahwa berita bohong dan menyesatkan serta penyebaran informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan berdasar SARA diancam pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal satu milyar rupiah. Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk menanggulangi hoax? Sikap paling penting adalah kritis pada setiap informasi yang kita terima. Mencari sumber berita lain, sebanyak mungkin carilah informasi sejenis pada portal berita yang jelas penyelenggaranya. Kedua, anda juga bisa menelusuri sumber informasi, sebab seringkali media besar dan ternama juga melakukan salah kutip atau salah memberikan keterangan. Ketiga, bila informasi tersebut telah terverifikasi dan menurut anda bermanfaat (mengandung pesan positif) maka silakan teruskan, namun sebaliknya, bila bermuatan negatif (menjelek-jelekkan kelompok lain, provokatif, mencemaskan, dll) maka tahanlah diri anda untuk memberhentikan pesan tersebut hanya pada ponsel anda. ingat, aduan pasal pencemaran nama baik dan penistaan kini tengah populer loh.

UU ITE


Pasal 45A ayat (1):
Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik sebagaimana dimaksud pasal 28 ayat (1) dipidana dengan penjara paling lama 6 (enam)tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)


Pasal 45A ayat (2):
setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Artikel pernah diterbitkan di kolom "Literasi Media" Majalah Walida

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.